Welcome....

Selamat datang teman-teman. Saya Paulus yang biasa dipanggil PaO. Saya rindu sekali untuk membuat artikel. Disinilah saya menuangkan semua hasil pemikiran. Saya beri judul pada Blog ini, Reflection Results. Ini semua hasil pemikiran, ide, refleksi dari saya sendiri. Apabila ada kata-kata atau kalimat dari orang lain, saya berikan footnote atau resensi tulisan. Saya yakin anda mendapat pelajaran yang baik pada saat anda membacanya. Bila teman-teman sedang ada waktu, boleh sekalian dikasih komentarnya dalam setiap artikel yang dibaca. Bila ada yang tidak setuju juga tidak masalah :D all praise to Jesus! praise for ever!!

Selamat Membaca. Tuhan Yesus Kristus Memberkati.

Penulis : Pdp. Paulus Igunata Sutedjo, M.Th.

Labels

Wednesday, September 26, 2012

SALVAGE THE SUNDAY - Ibrani 10:19-25 - part I.


Topik kali ini saya akan membahas tentang SALVAGE THE SUNDAY, yang artinya adalah Selamatkan Hari Minggu. Saya memakai kata Salvage, karena kata (noun) ini biasa digunakan dalam kalimat yang menggunakan kata penyelamatan harta atau tindakan penyelamatan dari kebakaran. Artinya, kata Salvage biasa digunakan untuk menyelamatkan dari suatu hal yang berharga. Dalam artikel ini, hal yang berharga itu adalah hari minggu atau hari ibadah. Setiap umat Kristiani pasti beribadah hari minggu pada umumnya, itulah sebabnya saya memakai kata Sunday, tetapi ada beberapa Gereja juga yang mengadakan ibadah tengah minggu. Fokus saya tidak hanya pada saat ibadah hari minggu saja, tetapi fokus artikel ini kepada setiap ibadah yang dilakukan umat Kristiani.

Pada saat kita mengendarai sebuah mobil yang sudah puluhan tahun, maka kita tidak perlu berpikir kembali untuk menaik-kan dan menurunkan gigi. Secara otomatis kita mengetahui kapan harus melakukannya. Begitu pula dengan orang Kristen, bagi beberapa orang, ke Gereja itu seperti bernafas, tidur dan semua hal lain yang kita lakukan tanpa berpikir. Bahkan ada beberapa orang yang ke Gereja dengan bangun terlambat, memasuki Gereja sambil berjalan terhuyung-huyung, menyembah tanpa berkonsentrasi penuh, mendengarkan sepintas lalu dan meninggalkan Gereja lebih cepat. Saya pribadi-pun pernah mengalami hal yang mirip-mirip, sehingga tidak bisa memberikan waktu yang terbaik untuk Tuhan pada saat ibadah berlangsung.

Bagaimana dengan setiap ibadah yang anda lakukan? apakah dipenuhi dengan   rutinitas? kejenuhan? atau masalah yang bertubi-tubi? atau bahkan menjalani setiap ibadah biasa-biasa saja? Kali ini kita akan belajar tentang bagaimana menyelamatkan hari minggu atau setiap ibadah yang kita lakukan dengan cara memberikan 2 jam yang terbaik pada saat ibadah. 

Saya akan membahas dari Ibrani 10:19-25, dengan perikop berjudul Ketekunan. Tentunya dalam hal ini, saya akan membahas tentang ketekunan dalam beribadah. Penulis kitab Ibrani memang masih belum diketahui, tetapi yang pasti kitab Ibrani ditulis untuk orang Ibrani, yaitu orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. 


I. Ibadah adalah Anugerah.
Ibr. 10:19  Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus,
Ibr. 10:20  karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri, 

Dalam ayat 19, dikatakan dengan penuh keberanian, berarti ada waktu di mana mereka dengan penuh ketakutan untuk masuk ke dalam tempat kudus atau beribadah. kapan waktu itu? tentunya hal ini pada saat ibadah dalam Perjanjian Lama. 

A. Ibadah dalam Perjanjian Lama
Kita bisa membacanya dalam kitab Imamat, keluaran, dll. Di mana mereka beribadah tidak bisa memasuki ke tempat Kudus dan Maha Kudus. Karena hanya orang pilihan saja, yang menyucikan dirinya dari dosa, yaitu Imam yang bisa memasuki tempat tersebut. Dan hanya Imam Besar saja yang bisa memasuki tempat Maha Kudus sekali setahun. Seperti yang tertulis dalam Kel.30:10. Sekali setahun haruslah Harun mengadakan pendamaian di atas tanduk-tanduknya; dengan darah korban penghapus dosa pembawa pendamaian haruslah ia sekali setahun mengadakan pendamaian bagi mezbah itu di antara kamu turun-temurun; itulah barang maha kudus bagi TUHAN." Jelas dikatakan juga harus mengadakan pendamaian dengan darah korban penghapus dosa. Jadi tidak bisa sembarangan untuk masuk ke dalam tempat Kudus dan tempat Maha Kudus, dan apabila dilanggar, kematian yang menjadi resikonya. Mereka pada zaman itu, hanya boleh sampai pelataran saja. Ini adalah waktu dimana mereka orang Ibrani beribadah dengan penuh ketakutan karena tidak bisa sembarangan untuk masuk ke tempat Kudus dan Maha Kudus.

Saya akan memberikan contoh kasus dalam Perjanjian Lama, dimana mereka yang tidak sungguh-sungguh dalam beribadah harus menanggung resiko kematian. Mari kita simak dalam Imamat 10:1-3.

Im 10:1  Kemudian anak-anak Harun, Nadab dan Abihu, masing-masing mengambil perbaraannya, membubuh api ke dalamnya serta menaruh ukupan di atas api itu. Dengan demikian mereka mempersembahkan ke hadapan TUHAN api yang asing yang tidak diperintahkan-Nya kepada mereka. 
Im 10:2  Maka keluarlah api dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan keduanya, sehingga mati di hadapan TUHAN. 
Im 10:3  Berkatalah Musa kepada Harun: "Inilah yang difirmankan TUHAN: Kepada orang yang karib kepada-Ku Kunyatakan kekudusan-Ku, dan di muka seluruh bangsa itu akan Kuperlihatkan kemuliaan-Ku." Dan Harun berdiam diri. 

Nadab dan Abihu adalah sebenarnya tergolong sebagai orang yang spesial, buktinya mereka dilantik menjadi Imam. Judul sebelum perikop Kematian Nadab dan Abihu adalah Para Imam menerima jabatannya (Pasal9), dan sebelumnya lagi adalah Pentahbisan Harun dan Anak-anaknya (Pasal8). Berarti Nadab dan Abihu belum lama ditahbis menjadi imam tetapi Tuhan tidak berkenan kepada mereka karena perbuatannya dan mengakibatkan kematian, sehingga Harun berdiam diri atau shock (Im.10:3). Ada beberapa alasan yang mendasari kematian Nadab dan Abihu. Antara lain adalah :

1. Mereka berdua datang dan mempersembahkan korban ukupan di hadapan Tuhan secara bersamaan padahal menurut peraturan, tindakan itu tidak diperbolehkan.

2. Ada kemungkinan mereka berdua telah mabuk oleh anggur sebelum melakukan pekerjaan Tuhan tanpa memperdulikan dan mempertimbangkan kesucian Tuhan.

Kedua Alasan diatas, saya kutip dari: http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2001/20010429.htm (Ev. Thomy J. Matakupan)

Tetapi saya memiliki alasan lain, yaitu:

3. Mereka mengambil api lain yang tidak diperkenan Tuhan dan bukan atas perintah Allah sendiri. “Im.10:1, masing-masing mengambil perbaraannya.” Dalam hal ini, Tuhan menginginkan kita untuk disiplin dalam setiap litrugi ibadah yang sudah ditentukan.

4. Nadab dan Abihu tidak bergaul karib dengan Tuhan. Im.10:3, Kepada orang yang karib kepada-Ku Kunyatakan kekudusan-Ku” Dalam hal ini, kita dapat belajar untuk dapat menjaga hubungan yang baik dengan Tuhan pada saat sebelum Ibadah. Karena memang hal inilah yang Tuhan inginkan kepada kita, yaitu menjalin relasi dengan-Nya.


Dalam kisah Nadab dan Abihu diatas atau dalam kisah lain tentang ibadah dalam Perjanjian Lama, jelas sekali bahwa kita yang ada dalam abad 20 ini harus mengucap syukur atas anugerah yang Yesus berikan kepada kita, sehingga kita dapat beribadah yang disertai dengan penuh pengucapan syukur.

Oleh karena darah Yesus (Ibr.10:19), sekarang kita bisa masuk ke tempat Kudus dan bahkan ke tempat Maha Kudus, karena melalui darah Yesus, tabir yang berfungsi sebagai pemisah antara tempat Kudus dan Maha Kudus terbelah menjadi dua. Kita bisa beribadah dengan leluasa, tidak seperti pada zaman Perjanjian Lama. Dalam hal ini kita harus menyadari bahwa setiap ibadah yang kita lakukan adalah anugerah yang Tuhan Yesus Kristus berikan untuk kita, orang percaya.

B. Ibadah Zaman sekarang.
Menyadari bahwa ibadah adalah anugerah, akan membuat kita semakin mengucap syukur atas pengorbanan Yesus di kayu Salib, sehingga kita tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan beribadah yang Yesus berikan kepada kita. Zaman sekarang beribadah cukup sulit bagi kita yang tinggal di Indonesia, karena kita orang percaya adalah kaum minoritas di negara ini. Saya mendapatkan beberapa fakta tentang ibadah zaman sekarang, sehingga kita dapat belajar dari hal ini.

Fakta 1.
Sebanyak 20 gereja di Aceh, khususnya di Kabupaten Singkil, telah disegel dan terancam dibongkar oleh pemerintah daerah setempat. Gereja-gereja itu dianggap tidak memenuhi syarat pembangunan tempat ibadah yang ditetapkan pemerintah daerah.
Sumber: http://regional.kompas.com/read/2012/06/12/12241130/20.Gereja.di.Aceh.Disegel.dan.Terancam.Dibongkar

Fakta 2.
Hari Minggu (10/4/2011) ini menjadi hari yang buruk bagi umat Kristen di China. Polisi di Beijing diberitakan telah menangkap puluhan umat suatu gereja setelah mereka beribadah di tempat umum. Menurut seorang pengurus gereja, kepada kantor berita Associated Press (AP), mereka terpaksa beribadah di tempat umum setelah mereka diusir dari gedung tempat mereka biasa beribadah. Menurut pihak berwenang di Beijing, gereja itu belum memiliki izin untuk beribadah di gedung Shouwang. Maka, pada ibadah Minggu pagi, para umat lalu berkumpul di suatu alun-alun sebagai tempat alternatif. Namun, di tempat itu, mereka justru ditangkap polisi. 
Sumber:
http://www.terangdunia.com/index.php?option=com_content&view=article&id=1457:polisi-china-tangkapi-umat-kristen-di-gereja-tak-berizin&catid=48:editorial&Itemid=89


Bagaimana tindakan kita sebagai orang Kristen tentang hal kedua fakta diatas? apakah kita harus marah sehingga mengeluarkan caci maki dan menyebabkan dosa? atau kita harus perang membela saudara seiman kita di Aceh dan di Cina? apakah itu yang harus kita lakukan? tentunya bukan!! Sebagai orang Kristen kita bukan diajarkan seperti itu, tetapi kita diajarkan untuk tetap mengasihi sesama kita, tidak peduli perbuatannya, agamanya, atau siapapun orangnya. Kita tetap harus saling mengasihi! untuk itulah kita harus mengucap syukur terlebih dahulu dengan cara melihat dari sisi positivenya, walaupun memang sulit. 

Kita dapat mengucap syukur dengan melihat kedua fakta tersebut dengan mengatakan:


Fakta1 : "Orang Kristen di Aceh berarti berkembang pesat karena ada 20 Gereja yang ingin di segel oleh pemerintahan setempat"

Fakta2 : "Mengucap syukur bahwa ada kemajuan di Cina untuk memiliki tempat ibadah, karena dulu mereka masih beribadah dibawah tanah, bahkan sampai sekarang masih ada yang seperti itu."

Tindakan kita tidak harus anarkis seperti yang dilakukan oleh ormas-ormas tertentu dalam negara ini. Tetapi kita bisa bantu lewat bagian kita, yaitu berdoa. Sebagai orang Kristen seharusnya kita dapat berpikir jernih dan bertindak bijaksana. Kita tidak harus selalu ke Aceh atau Ke Cina, ingatlah bahwa kita juga ada tanggung jawab ditempat kita. Think Global, Do Local! Kita bisa membantu mereka yang di Aceh dan Cina dengan melakukan apa yang harus kita lakukan disini. Mungkin kita bisa bekerja lebih giat lagi sehingga kita bisa menghasilkan uang yang lebih banyak untuk bantu Dana disana, dengan mengirimkannya lewat lembaga-lembaga tertentu yang punya misi menolong ke daerah Aceh atau Cina.


Jadi dengan melihat kedua fakta diatas, tidak membuat iman kita semakin surut, tetapi jusrtu hal ini seharusnya membuat kita semakin bersemangat dengan memberikan kualitas yang terbaik dalam 2jam ibadah yang kita lakukan, di tempat kita sendiri. Ingatlah, kita bisa beribadah di zaman sekarang karena Darah Yesus.

Setelah kita menyadari bahwa Ibadah adalah anugerah, selanjutnya tindakan apa yang seharusnya kita lakukan pada saat ibadah?


Mari kita simak dalam SALVAGE THE SUNDAY - Ibrani 10:19-25 - part II.

Monday, September 24, 2012

Quotes from me 126-130



126. Hidup seperti odol yang dipencet, setelah kita keluarkan odol dari tempatnya, kita tidak akan bisa memasukan kembali ke tempatnya. Hidup hanya sekali, jangan buang-buang waktu untuk mengerjakan hal yang tidak berguna, karena tidak akan terulang kembali. 



127. Kita mengeluarkan air dari tubuh 2ltr/hari lewat air seni, keringat, dll. Mari kita jaga kesehatan lewat hal kecil, cth : Minum jangan karena HAUS, tetapi karena HARUS.



128. One package of forgiveness is words and actions.



129. Kita tidak bisa merubah, menghapus atau balik ke masa lalu, tetapi kita dapat memperbaiki diri kita yang sekarang untuk masa depan.



130. Tidak ada yang salah dengan kegagalan, yang salah apabila kita meratapi kegagalan tersebut.